Berkurban Menurut Mazhab Syafi’i

Dalam mazhab Syafi’i, ibadah qurba hukumnya sunnah muakad, yaitu suatu ibadah yang jika dilakukan mendapat pahala dari Allah SWT, tapi melakukannya sangat dianjurkan.

Ustadz Muhammad Ajib dalam buku Fikih Qurban Perspektif Mazhab Syafi’i terbitan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan, sebaiknya bagi orang yang memiliki keluasan rezeki tidak meninggalkan ibadah qurban. Sebab walaupun hukumnya sebatas sunnah, tapi sunnah yang satu ini termasuk yang sangat dianjurkan. Dengan kata lain sunnah muakad adalah sunah yang kuat.

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menyampaikan, adapun masalah hukum qurban, Imam Syafi’i dan ulama syafiiyah menyebutkan hukumnya sunnah muakad. Qurban termasuk syiar agama Allah yang sebaiknya dijaga bagi yang mampu melaksanakannya walaupun tidak wajib berdasarkan dalil syar’i.

Perlu diketahui ibadah qurban juga dianjurkan bagi siapa pun yang berada di kota, desa dan orang yang sedang bepergian atau musafir. Bahkan orang yang sedang haji sangat dianjurkan berqurban meskipun sudah menyembelih hadyu (sembelihan).

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menyampaikan, Imam Syafi’i berkata dalam bab sesembelihan, qurban hukumnya sunnah bagi siapa pun yang memiliki keluasan rezeki baik penduduk kota, desa, musafir dan orang yang sedang haji meskipun sudah melakukan hadyu atau belum.

Namun perlu diketahui ibadah qurban dalam mazhab syafi’i termasuk sunnah kifayah. Maksudnya, jika salah satu keluarga ada satu orang saja misal suami yang berqurban, maka kesunnahan qurban sudah gugur bagi istri dan anak-anaknya. Ini yang disebut dengan sunnah kifayah.

Imam an-Nawawi, dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mengatakan bahwa para ulama syafi’iyah berkata, ibadah qurban hukumnya sunnah kifayah dalam satu keluarga. Jika salah satu dari mereka ada yang berqurban maka pahala kesunnahannya merata ke keluarga mereka semua.

dikutip dari republika.co.id [https://republika.co.id/berita/qcv9pc366/pandangan-mazhab-syafii-tentang-qurban]