Dengarkan Nurani!

Suatu ketika, keresahan sayup-sayup melanda hati. Satu hal telah dilakukan dengan alasan yang rumit. Keadaan yang mendesak dan waktu yang begitu singkat memaksa untuk melakukannya. Harus! Sekarang!

Dipilihlah alternatif yang terbaik saat itu. Berbagai alasan ditimbang-timbang dalam waktu yang terus bergulir menuju batas akhir pengambilan keputusan. Dan … terjadilah apa yang memang harus dilakukan.

Waktu berlalu, detik, menit, jam … terus bergulir. Resah kian mendera. Keputusan yang didukung dengan pembenaran-pembenaran mengusik nurani. Kebenaran yang semula diyakini, kian redup berganti dengan pengakuan kebenaran lain yang terus menyeruak. Pembenaran demi pembenaran satu-satu runtuh dihadapkan pada gejolak nurani yang tak mau mengakui.

Begitulah, seburuk apapun perilaku kita, tetap saja akan ada nurani yang selalu menyatakan suatu kebenaran. Akal dan pikiran seringkali berupaya keras mencari pembenaran-pembenaran bagi suatu kesalahan yang dilakukan, tetapi nurani akan tetap menyatakan kebenaran yang hakiki. Keresahan merupakan pertanda bahwa ada hal yang salah dengan sikap dan perilaku, meskipun dengan berbagai alasan pembenaran.

Ketenangan hidup ditopang oleh ketenangan jiwa yang memancar atas kehendak Tuhan[]